y u n i

Yang Terlupakan

Hadiah Valentine untuk Lora


Suara sepatu yang berasal dari langkah kaki seorang gadis yang berjalan dilorong itu terdengar semakin dekat ditelinga Lora. Ia sedang asik mencorat – coret sketchbook nya disudut kelas. Perlahan Lora menoleh kan wajah nya sejauh 90 derajat yang penuh dengan karakter antagonis itu kearah pintu. Dari balik pintu terlihat sesosok gadis manis dan anggun sambil memegang sebuah kotak berwarna pink dengan pita hitam diatasnya. Langkah nya semakin mendekati lora yang kembali fokus ke sketchbooknya sambil menggigit pulpen seperti berusaha mengabaikan kedatangan gadis itu.

“Dari pada gigit pulpen lebih baik gigit permen minz ajah!” kata gadis manis itu sambil menyodorkan kotak berwarna pink yang dipegang nya ke mejanya Lora yang penuh dengan alat gambarnya.

“JANGAN IKLAN!!” bentak Lora sambil berdiri.

“emmmhhh, maaf tapi itu iklan nya lucu banget. Aku aja ketawa setiap liat itu di tipi.” Canda gadis yang tingginya sebahu Lora itu sambil mengambil lagi kotak pink yang tadi sudah di taruh nya dimeja Lora.

“OOHH~.” Hela Lora kemudian kembali duduk namun tidak merasa hal itu lucu sama sekali.

“teruuss? mau ngapain kesini? Kamu Naine kan?” tanya Lora ke gadis manis yang bernama Naine Heto itu sambil mendongakkan kepaala nya kearah wajahnya Naine yang berdiri disampinnya.

“Ahhh~ senangnyaaaa kak Lora inget nama ku. Iya.. aku Naine dari kelas IA, bisa panggil Ine aja kok klo manggil nama Naine bikin kakak pusing. Aku yang waktu itu nabrak ka …” tiba tiba suara Ine terputus seolah enggan melanjutkan kata – katanya.

“nabrak? Siapa yang ditabrak? Trus kotak itu?” tanya Lora ketus sambil merapikan semua alat tulis kedalam tas punggung putihnya yang sudah kusam terkena crayon yang setiap hari memenuhi tasnya itu.

“ahh soal nabrak lupain aja. Ini hadiah Valentine buat kak Lora.” Ine kembali tersenyum  sambil menyodorkan kotak pink berpita hitam itu ke tangan Lora yang sudah penuh membawa penggaris juga sketchbooknya.

“HADIAH VALENTINE? INE !! GUE INI CEWEK ELU CEWEK, NGAPAIN PAKE HADIAH VALENTINE SEGALA?!” suara Lora meninggi sampai memecahkan susana kelas yang riuh menjadi hening dan menjadi pusat perhatian seisi kelas.

“tapi kak, Valentine kan boleh dikasih ke siapa saja hadiah nya.” Jelas Ine sambil menundukkan kepalanya menandakan Ia kecewa Lora mengabaikan hadiahnya begitu saja.

Lora kembali duduk dan tetap mendiamkan Ine memegang kotak pink itu ditangannya sambil menunduk dan menatap ke arah lantai. Susasana awkward itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Ine merasa tangannya pegal memegang kotak pink itu.

Perlahan Ine menaruh kotak hadiah valentine buat Lora itu dimeja, samping tangan Lora yang sedang mengepal seolah marah karena tidak paham dengan suasana yang sedang Ia hadapi namun dia masih belum mau untuk bertanya.

“Kak, ini buat kak Lora. Apapun yang akan kak Lora lakukan dengan kotak ini terserah aja. Mau dibakar, dibuang, disimpan, dimesiumkan, dijadikan jimat, dikubur atau kakak telan utuh juga gak masalah. asal jangan dikasih ke orang lain.” Ine perlahan mengusap keringat yang mengalir dikeningnya dengan menggunakan lengan tangan kanannya.

Lora tidak merespon apa yang dikatakann Ine, perlahan Ia menggerakkan tangan nya kearah laci mejanya kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah tanpa pita, kemudian membukanya.

Terlihat sebuah cincin berwarna putih berkilau dari balik bungkusan kotak kecil itu. Melihat benda itu Ine terbelalak sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya seolah untuk menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara teriakan karena shock melihat cincin bertuliskan nama Lora dan Hino.

“ Ne, apa elu masih berfikir buat ngajak jadian gue lagi? Gak cukup gue tolak lima kali?” tanya Lora dengan tatapan kosong nya kearah kotak berisi cincin dari Hino pacarnya yang terlihat mahal itu.

“ semuanya sudah berubah Ne! Gue udah sembuh, gak amnesia lagi! Mungkin lo  berhasil merubah jenis kelamin lo jadi cewek. Lo juga bisa berpenampilan jadi cewek, bahkan mungkin kartu pelajar lo juga berjenis kelamin cewek atau jangan – jangan semua identitas cowok lo emang udah beneran ilang dari muka bumi ini. Tapi Ne, gue gak bisa lupa, klo elo temen cowok satu – satunya yang gue punya!”

Lora tak kuasa menahan emosi nya ke Ine, dia berbicara sampai diluar jalur yang seharusnya tidak ia langgar. Bahwa dia seharusnya tidak mengatakan dirinya tidak amnesia setelah kecelakaan 3 tahun silam. Ia berlari meninggalkan Ine yang masih terpaku atas kata – kata yang Lora lontarkan kepada nya barusan.

Selama ini Ine mengira bahwa Lora Amnesia dan tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Naine sahabat karibnya sejak kecil hingga kecelakaan itu terjadi. Ine tidak mengira bahwa Lora mengetahui dirinya sudah bertransformasi menjadi wanita karena kehilangan organ vital nya saat peritiwa itu terjadi.

Kecelakaan itu memang berakhir tragis namun masih menyisakan sedikit kehidupan bagi penumpang  mini bus yang tertabrak truk tangki minyak saat perjalanan menuju wisata luar kota saat itu. Tidak ada yang tersisa kecuali Lora, Naine dan seorang guru yang menurut kabar sekarang Ia mendekam di rumah sakit jiwa karena trauma. Sedangkan Lora diduga amnesia karena benturan hebat dikepalanya, namun tidak banyak yang tau bahwa Lora sangat bekerja keras selama memulihkan ingatannya. Tujuannya adalah untuk kembali mengingat semua hal yang terjadi dikehidupan sebelumnya. Dengan cara terapi ketat disebuah rumah sakit spesialis yang ada di kotanya Ia berharap dirinya akan kembali normal seperti sebelumnya. Berbeda dengan Lora dan gurunya yang gila, Naine dikabarkan kehilangan kelaminnya saat kejadian itu. Mungkin karena Naine adalah seorang cowok blasteran Jepang – Inggris, sehingga wajah nya yang cantik dan badannya yang indah tetap cocok meskipun harus transgender menjadi wanita.

Sejak kedatangan Naine disemester ganjil musim semi kemarin, kehidupan Lora dikampus sudah mulai tidak tenang. Ia menyadari bahwa Ine adalah cowok yang ia sayangi sejak lama, bahkan Ine berjanji akan menikahinya kelak mereka sudah mulai mapan. Namun harapan itu sirna ketika Ia kembali pulih dari Amnesia dan mulai mencari tau keberadaan Naine setelah kecelakaan terjadi.

Melihat Ine ada didepan matanya dengan berpakain layaknya perempuan bahkan lebih terlihat anggun dibandingkan dirinya, hal itu membuat Lora sangat tidak tau harus berbuat apa. Antara sedih, rindu, marah, cemburu, atau cinta?

“Rrrraaa, ada paketan tuh!” teriak Rina dari dapur sampai terdengar dari kamar Lora yang ada dilantai dua.

“ambiliin dong Rin.. plisss gue males bangun nih kepala sakit banget!”

“ambil ndiri, gue lagi goreng terong nihhh!”

“matiin dulu kompor nya,, lagi gue males makan ngapain lo masak?”

“emang yang butuh makan elo doang?! Lagi siapa yang masakin buat Elo. NIIHH!” gertak Rina sambil melempar kotak pink berpita hitam itu kearah tempat tidur Lora yang kebetulan tidak ditutup pintu nya.

“btw Ra, lain kali klo tidur ditutup pintu nya, klo ada maling terus mau perkosa elo gimana?” protes Rina sambil berlalu dari kamarnya Lora.

“HHAAA? PERKOSA?” teriak Lora sambil melotot mendengar kata – kata yang menurutnya janggal itu.

Sambil terlentang diatas kasur empuknya yang nyaman Lora memandangi paketan yang masih terbungkus rapi itu. Dari balik plastik yang melindungi paketan tersebut terlihat pita hitam. Kemudian ia teringat kejadian kemarin saat Ine memberinya hadiah valentine. Setelah mengalahkan rasa malas dan sakit kepalanya, Lora bangun kemudian merayap kelantai mendekati paketan itu tergeletak.

Pelan – pelan tanpa tenaga Lora membuka paketan itu. Namun tak ada benda apapun didalam kotak pink berpita hitam tersebut. Kecuali selembar kertas berwarna hitam yang terlipat membentuk kapal – kapalan yang siap diluncurkan ke bak mandi seperti mainannya saat masih kecil bersama Ine.

Lora yakin betul itu kotak yang dibawa Ine kemarin, walaupun sudah beberapa kali Lora memperhatikan alamat pengirim, namun Ia masih tidak mendapatkan clue siapa sebenarnya yang mengirim paketan tersebut.

Merasa penasaran, Lora membuka kapal – kapalan itu dan berharap ada petunjuk disana. Diatas kertas hitam itu terlihat sebait pesan yang ditulis dengan tinta putih.

“Ini bukan salah siapa, ini aku anggap takdir. Selama cinta tidak diskriminasi, kita masih bisa bersama. Valora, ikhlaskan aku seperti ini dan kita bersama lagi. Kamu masih ingin menikah dengan ku?”

“cintaa? Diskriminasi?” ucap Lora dalam hati sambil berfikir keras apa maksudnya.

Valora hanya terpaku membaca tulisan yang ada dikertas hitam itu. Perlahan air matanya menetes menahan kerinduan terhadap Ine. Saat ini yang ia inginkan hanya memeluk tubuh berkulit putih yang sekarang sudah menjadi wanita itu. Terbayang olehnya sesosok wanita berambut panjang dengan poni rapinya mirip beberapa hairstyle nya AKB48, memakai rok diatas lutut dengan kaki yang ramping dan mulus, kulitnya yang putih, matanya yang sipit. “OH TUHAN, bahkan dia lebih cantik daripada aku yang sebenernya seorang wanita sejak lahir. Tapi dia….”

Tak mampu menahan emosinya Lora berlari meninggalkan kamarnya dan bergegas pergi menuju kampus dan ingin segera sampai ke sekretariat fakultas.

“Rrraaa, badung! Mau kemana lo?!” teriak Rina melihat Lora lari kemudian nyamber sepeda dari dalam kamar kamarnya.

Melaju dengan sepeda milik Rina, Lora segera mendatangi sekretariat dan menanyakan alamat rumah Ine. Awalnya petugas sekretariat tidak memberinya informasi. Karena mahasiswa bersifat sangat rahasia dan tidak boleh diberikan ke mahasiswa lainnya namun, dengan bujukan – bujukan Lora akhirnya Ia mendapatkan alamat Ine yang Ia harapkan.

Segera Lora menggayuh sepeda menuju alamat yang tertera dikertas yang diberikan petugas sekretariat tadi. Tanpa menyadari pakaiannya yang hanya memakai tank top plus cardigan dan celana jeans selutut karena memang dia tidak memperdulikan pakaian nya saat pergi tadi.

Setelah menggayuh sepeda hampir satu jam, tibalah Lora didepan bangunan yang sangat jauh dari keramaian kota. Rumah dengan bangunan khas jepang yang terbuat dari kayu, dikelilingi bunga warna warni serta tumbuhan hijau lainnya. Ia berdiri didepan gerbang sambil mengamati keadaan sekitar. Sampai akhirnya ia mendapati sesosok pria sedang duduk di kursi goyang yang ada diteras rumah gaya jepang itu sambil menyisir wig yang ada ditangan nya. Pria itu berambut cepak, memakai T-Shirt berwarna kuning dengan lengan menyentuh siku nya. Dia memakai celana jeans panjang layaknya Naine Heto yang Ia kenal 3 tahun lalu sebelum terpisah dengannya saat kecelakaan terjadi.

“Heto?” ucap Lora dengan suara lirih seakan tdak percaya bahwa Ia melihat Heto yang berbeda dengan Ine yang kemarin memberinya hadiah Valentine.

Mata Lora semakin terbelalak saat melihat Ine berjalan menuju pagar karena mendapati ada Lora berdiri disana. Degup jantung Lora semakin kencang dan tidak bisa untuk tidak bersuara. Kakinya gemeteran dan tangannya tidak mampu lagi memegang sepeda yang Ia kendarai tadi hingga akhirnya sepeda itu terlepas dari tangan nya dan ambruk tepat di samping Ia berdiri.

“Heto?” ucap Lora masih dengan suara lirih dan sangat pelan.

Pria cantik itu membuka gerbang kemudian melangkah menuju tempat dimana Lora berdiri. Ia berdiri kaku menatap mata Lora yang masih melotot sambil meneteskan air mata.

Suasana hening sesaat,  seakan waktu terhenti sampai disitu saja. Yang terdengar hanya suara degup jantung yang saling sahut menyahut satu sama lain, hembusan nafas yang beriringan.

“Va, aku ingin jadi Naine Heto. Aku ingin tetap jadi pria.” kata Ine pelan dan hanya masih berdiri kaku dengan tangan yang gemetaran namu Lora hanya diam dan tidak meberikan respon.

“Va, aku bukan lagi pria dan aku tidak menjadi wanita.”Ine membalikkan badannya seperti ingin pergi menjauhi Lora yang masih belum bisa menggerakkan badannya sedikitpun. Namun ketika Ine melangkahkan kaki, Lora mampu meraih tangan kanan Ine dengan tangan kirinya.

“terus? Gi gimana de ngan jan ji mu me me nikahi ku?” tanya Lora dengan terbata – bata.

“maaf, kalau hanya kamu ikhlas nerima aku…” Ine melepas tangan Lora yang memegang tangan kanannya yang seolah berusaha untuk menahannya agar tidak pergi.

“terus apa kamu tau perasaan ku? Kamu tau sakitnya kamu bohongi selama ini? Memakai wig ke sekolah, merubah semua identitas? Membiarkan aku lupa dengan semuanya. Kita sakit Ne, kenapa kita tidak saling mengobati ketika kita sakit? Kenapa kita gak saling jaga?!” kata Lora dengan nada tinggi. Ia berjalan ke posisi dihadapan Ine yang sudah mulai menundukkan wajahnya.

“aku berusaha keras mengingat mu Ne… itu kenapa aku mau menjalani terapi selama ini. Tapi kamu membiarkan aku sendirian Ne bahkan membohongi aku selama ini dengan alasan yang gak aku ngerti.” Lora merendahkan intonasi suaranya kemudian duduk lesehan diatas rumput disamping Ine berdiri.

“Va, tubuh ku tidak tumbuh sejak awal operasi transgender. Bahkan aku bukan Heto yang berkelamin pria. itu kenapa aku tidak siap menghadapi kenyataan apa yang akan terjadi kalau kamu tau aku adalah Naine Heto teman kecil mu, juga tunangan mu.” Ine bicara sambil menahan isak tangis nya. Dia berusaha menahan air mata itu tapi…

“Heto, air mata mu jatuh ke punggung ku. Aku tau kamu nahan nangis,,,” kata Lora sambil berdiri kemudian mengusap air mata Ine yang semakin membanjiri pipinya.

“HWAAAAAAAAAAA VALORA!! Kita jadi pasangan YURI aja yuuukkkk!!” teriak Ine sambil memeluk badan Lora yang penuh keringat karena mengayuh sepeda cukup jauh.

“Va,,,,kamu bau kecut belum mandi ya?” bisik Ine ditelinga Lora yang Ia peluk dengan erat itu.

“HAAA DASAR SIPIT! LEPASIIIINNN!” Lora meronta namun tetap tidak dilepaskan sedikitpun oleh Ine.

“gaaakkk mauuuu,,, masiiih kangeeennnn~.” Sahut Ine dengan suara manjanya.

Sesat seperti waktu terhenti lagi, kali ini seperti perubahan waktu dari suram menjadi kebahagiaan bagi Lora.

“Va, aku masih cinta, dan semakiiin …” bisik Ine lagi ditelinga Lora. Kali ini Lora menikmati bisikan kata yang Ia rindukan itu.

Mungkin Ine hanya butuh waktu untuk mengumpulkan kekuatan dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang akan dilakukan Lora terhadapnya. Namun ia tidak mengira kalau Lora menunggunya sampai ia mampu jujur kepadanya. Dengan kesadaran bahwa perubahan fisik, ruang dan waktu tidak merubah perasaan Ine kedirinya, Lora dengan senang hati kembali ke kehidupan Ine lagi meskipun entah apa yang akan terjadi setelah ini. Apa namanya, pasangan kekasih atau pasangan Yuri? Btw pada tau gak Yuri itu apa artinya? Itu loh sejenis lesbi, cewek suka ama cewek WAHAHHAHAHA.

— by giyuni96

Advertisements

Your Thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 13, 2013 by in SHORT STORY.

ARCHIVES BLOG

CATEGORIES POST

  • 53,947 hits

Via Instagram

Long time no post. 😅😅😅 Mudik ... Gak kebagian tempat. Karena telat trus luberrr. Kebagian dikit doang abis itu jajan 😂 Apakah dia sejenis bulldozer yg merana? ( Alias pengangguran )

#indonesiandiecaster  #diecast Satu2 nya Monster Truck yang masih utuh. Lainnya dah pada cacat 😅

#indonesiandiecaster #diecaster Masing inget foto Rafif nggrindil di Penvil?

Nah, sepulang dari situ dia demam, batuk, pilek. Sampe hr ini masih ada pileknya.

Sebenernya awalnya dia gak mau pulang dari Pirate. Tapi trus di iming2in es krim nitrogen. Jadi dia nyerah deh. Pas makan kok dia kayak batuk2 gitu trus meler hidungnya. Ntah krn abis nangis atau krn abis ngeskrim tuh melernya.

Es krim abis, kita turun via eskalator. Dan dia melihat pajangan buanyaaaaknya Hotwheeeellllllsssss.

Nangis lagi dah dia. Kata dia " Adek mau main main mobiuuuu. Anyaak main main Adek mauuu!" Klo dijual sih gakpapa, lah itu pedagangnya cuma jual raknya aja, hotwheel nya kagak dijual. Emak bisa apa?

Akhirnya, kita mampir ke hypermart. Dan dia membabi buta beli segala macem diecast.

Tapi demi mengontrol emosi dan nafsu sesaat. Jadi cuma emak beliin 2 aja. 
Dan mobil ini salah satunya.

Kebayang gak klo anak laki kita ada lebih dari 2 dengan hobi yg sama dan gak mau berbagi? Tumpur lah bapake ... 😂

#indonesianDiecaster #diecaster Ayooo, siapa yg mau ikut ke Secret Zoo.

Bolehlah naik dengan percumaaa 🎶

#diecaster #diecasteramatir Mei Mei

Sikucing kampung jantan. Sehari aja Rafif tanpa laptop. Awalnya nangis2 air mata buaya. Lama2 bodo amat dah yaa. Saatnya milihin mainan kesukaan.
Follow y u n i on WordPress.com
%d bloggers like this: