y u n i

Yang Terlupakan

Lebaran Sebentar Lagi, Bikin Rencana Mudik Yok!


WARNING:

Postingan ini menggunakan gaya bahasa “Free!” :v

Hari ini tepat hari ke 9 dibulan Ramadhan, gak ada susasana yang berbeda dikosan berlantai 2 yang gue huni selama setahun terakhir ini. Gue masih mendekam dikamar hampir sepanjang hari meratapi nasib yang sebenarnya mudah saja gue selesaikan, tapi biar menambah kesan mendramatisir gue masih kukuh mengurung diri dikamar bernomor 9 ini.


“Mbak ikut pulang ke medan enggak?” tanya adek melalui applikasi whatsapp, tadi siang.

“Enggak ada rencana.” Gue bales singkat seakan sedang memerankan karakter tsundere kayak di anime – anime yang setia nemenin gue setiap hari di laptop.

“Yowes.” Lanjutnya singkat, tapi gue yakin dia gak lagi memerankan karakter tsundere juga.

“Kenapa emang?” gue nanya karena penasaran. Lahh malah jadi gue yang kepo.

“Aku pulang soalnya.” Ohh! pesan singkat yang ini sangat membuat gue berfikir keras.

“Kol bisa?” gue nanya ini sambil buru – buru ke toilet jadi gue ngetik ya sadanya aja. Pas gue balik ke kamar dan ngecek hape, dia bales lagi.

“Kol bisa?” dia balik nanyak sambil menambahkan emot kayak wajah pucat dengan peluh mengucur dipipinya.

“Dah dapet tiket?” gue nanya lagi seolah gak memperdulikan typo itu. – lalalalala.

“Pulang gak? Udah. Mau ikut pulang gak?” tanya adek bertubi – tubi. Untung lemparan pertanyaan, bukan lemparan batu.

“Sayang duitnya. Belum ada pemasukan rutin lagi.” Gue jawabnya melas banget, memeperjelas keadaan yang menggambarkan seakan sekarang ini gue tidak memiliki gaji rutin lagi setiap bulannya. Tidak seperti nasib sebelumnya yang masih bekerja di salah satu perusahaan swasta software house didaerah Salemba, Jakarta.

“Yaudah. Terserah. Harga tiketnya masih 600an ribu.” gue mbayangin ini si adek lagi megang duit 6 lembar ratusan ribu rupiah warna merah semua terus, dia kipas – kipasin di muka dia yang kayak emot pucet tadi.

“Seriusan?” Gue jawab sok – sokan shock gitu tahu harga pesawat mudik masih di bawah satu juta rupiah. Teman sekosan aja kemarin mengeluh karena harga tiket Jakarta – Padang sudah diatas 900an ribu untuk keberangkatan tanggal sekitar 20. Wowww, begitu ungakapan yang tepat mengetahui info ini.

“Iya. Citylink. Aku pesen ditemennya Yumet. Pulang tanggal 28 harganya masih 600an ribu. Tanggal 30 dan seterusnya harga udah diatas 900an ribu.” sampai disini gue merasa di ancam ama adek gue sendiri.

“Balik Jakarta kapan?” gue kepo nya maksimal, sangking buat ngilangin rasa lagi diancam tadi.

“Gak tau. Aku libur sebulan.” Bales dia lagi.

Haaa, kamu mahasiswa. Kamu masih punya waktu libur yang sesuai dengan kalender akademik. Enggak kayak gue yang biasa libur sesuai kalender perusahaan, kini malah sama sekali tidak libur tapi libur semaunya. “Aku gak bisa lama – lama. Kan mau ngurusin nikahan yang disini.” Oh ini miris, gue kehilangan pekerjaan 4 bulan menjelang hari pernikahan. Rasanya, ya bayangkan saja sendiri.

“Baliknya sendiri – sendiri. Kalau gak pulang ya gakpapa. Terserah sih.” Woo,, kayak nya dia mulai capek bales pertanyaan gue.

Ya benar, gue sudah terbiasa puasa dirantau orang, jauh dengan orang tua. Sahur dan berbuka puasa sendiri seperti sudah menjadi tradisi setiap tahunnya, bahkan Lebaran pun gak bisa dipastikan bisa bertemu dengan mereka. Hal ini sering terjadi sejak tahun 2006, sejak gue memutuskan kuliah di Universitas Indonesia Depok dan meninggalkan kedua orang tua di Medan. Meskipun saat itu ke tiga saudara gue juga berada di Depok dengan alasan studi mereka masing – masing. Oleh karena-nya, kami memiliki rumah di Depok kelapa 2, rumah yang kami jadikan basecamp, – secara tidak langsung.

Ini bukan masalah kangen atau soal hanya sekedar ongkos mudik. Akhir – akhir ini gue memikirkan umur kedua orang tua gue sampai seberapa panjang. Gue tahu, hanya Allah yang paham betul sampai kapan kita hidup. Namun mengingat kini umur kedua orang tua gue sudah menginjak kepala 5, sepertinya gue tidak mau melewatkan momen Ramadan dan Idul Fitri bersama mereka. Gue tidak perduli tentang kepulangan gue dua bulan yang lalu untuk urusan pendaftaran Haji sekaligus membahas pernikahan dengan mereka. Dengan pertimbangan ini gue memutuskan untuk pulang bersama adek. Gue yakin pilihan ini tidak salah sama sekali, karena gue menganggap siapa yang paling penting didunia ini sebelum kita menikah? Pastilah orang tua. Meskipun gue salah, gue anggap itu hanya kekeliruan dalam membuang waktu kosong sebagai orang bertitel “pengangguran”.

“Beli’in buat pulang ke Medannya dek. Tar ku ganti.”

“Mau Nih? Serius?”

“Iya.”

“Biar ku bilang ke Yumet.”

“Oke.”

Oke, itulah keputusan akhir. Adek yang sering gue panggil Naning ini kemudian mengirimkan pesan singkat yang berisi nomor rekening pembayaran tiket. Haaah~ gue harus keluar mencari ATM untuk mentransfer pembayaran itu. Dengan sedikit rasa malas gue ke alfamart seberang jalan depan kosan untuk transfer sekaligus membeli air mineral botol 1.5 liter karena air mineral galon sudah habis tadi malam. Mau refill yang galon tapi tanggung, 3 hari lagi gue harus pindah dari kosan ini ke rumah yang ada di Depok. – gue mikirnya sih gitu.

“Maaf ya dek, bukannya gak mau nalangin. Tapi saldo ku lagi gak cukup.” Kata Yumet, kakak gue melalui pesan singkat.

“Iya, udah kok.” gue jawab singkat kayak biasanya.

“Oke, makasih.”

“Loh! Kebalik, harusnya aku toh yang makasih. Ho ho ho. Gak ikut pulang?” gue bales dengan sedikit gaya bercanda agar dia tidak merasa bersalah.

“Gak cukup kalau bertiga.” Balasnya lagi ditambahin emot titik dua plus tanda kurung terbuka, yang menandakan dia sedih.

“Hoo.. yowes dijakarta wae. Kerumah ibu.” Maksud gue, kerumah ibu mertuanya. Dia sudah menikah sekitar 6 tahun yang lalu dengan pria yang rumah orang tuanya ada di Jakarta dekat sekitar Ragunan. Biaya perjalanan untuk dirinya, suaminya serta satu anak perempuannya membuat Ia berat untuk mudik tahun ini. Mungkin masalah ekonomi juga. Yang gue tau kakak gue pegawai di perusahaan seperti BUMN, titelnya sebagai apoteker membawanya ke perusahaan yang memberikan gaji lumayan besar setiap bulannya. Tapi mungkin tidak bernasib sama, suaminya tidak demikian. Hebatnya, mereka saling memahami. Suatu saat pasti gue akan mengalami phase seperti mereka, dimana mengorbankan sesuatu karena sesuatu yang lebih prioritas, namun tetap merasa bersyukur karen adanya rasa saling memahami. Tapi, mungkin saja kalau mudik direncanakan jauh – jauh hari biayanya bisa dapat yang jauh lebih murah dengan fasilitas yang sama. – Mungkin.

Advertisements

Your Thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 19, 2013 by in FAMILY'S.

ARCHIVES BLOG

CATEGORIES POST

  • 53,947 hits

Via Instagram

Long time no post. 😅😅😅 Mudik ... Gak kebagian tempat. Karena telat trus luberrr. Kebagian dikit doang abis itu jajan 😂 Apakah dia sejenis bulldozer yg merana? ( Alias pengangguran )

#indonesiandiecaster  #diecast Satu2 nya Monster Truck yang masih utuh. Lainnya dah pada cacat 😅

#indonesiandiecaster #diecaster Masing inget foto Rafif nggrindil di Penvil?

Nah, sepulang dari situ dia demam, batuk, pilek. Sampe hr ini masih ada pileknya.

Sebenernya awalnya dia gak mau pulang dari Pirate. Tapi trus di iming2in es krim nitrogen. Jadi dia nyerah deh. Pas makan kok dia kayak batuk2 gitu trus meler hidungnya. Ntah krn abis nangis atau krn abis ngeskrim tuh melernya.

Es krim abis, kita turun via eskalator. Dan dia melihat pajangan buanyaaaaknya Hotwheeeellllllsssss.

Nangis lagi dah dia. Kata dia " Adek mau main main mobiuuuu. Anyaak main main Adek mauuu!" Klo dijual sih gakpapa, lah itu pedagangnya cuma jual raknya aja, hotwheel nya kagak dijual. Emak bisa apa?

Akhirnya, kita mampir ke hypermart. Dan dia membabi buta beli segala macem diecast.

Tapi demi mengontrol emosi dan nafsu sesaat. Jadi cuma emak beliin 2 aja. 
Dan mobil ini salah satunya.

Kebayang gak klo anak laki kita ada lebih dari 2 dengan hobi yg sama dan gak mau berbagi? Tumpur lah bapake ... 😂

#indonesianDiecaster #diecaster Ayooo, siapa yg mau ikut ke Secret Zoo.

Bolehlah naik dengan percumaaa 🎶

#diecaster #diecasteramatir Mei Mei

Sikucing kampung jantan. Sehari aja Rafif tanpa laptop. Awalnya nangis2 air mata buaya. Lama2 bodo amat dah yaa. Saatnya milihin mainan kesukaan.
Follow y u n i on WordPress.com
%d bloggers like this: