y u n i

Yang Terlupakan

Satu Hari, Di Kuala Namu…


SAM_1842

Tepat pada tanggal 28 Juli, aku memutuskan pulang ke Medan bersama adek ku, Nina. Berkat tiket murah itu, ehh anuu maksudnya harga  tidak sampai satu juta di suasana mudik seperti ini. Tiket itu membuat ku berfikir, bahwa ini bakal menjadi mudik lebaran paling murah selama aku merantau di Jakarta, mengais ilmu.

Dari terminal Pasar Minggu aku memilih memakai angkutan umum Damri untuk menuju Soetta Airport . Cara ini lebih aku suka dari pada harus naik taksi, apalagi harus minta antar memakai mobil pribadi, itu akan terasa ruginya lebih banyak dan merepotkan orang yang mengantar. Mandiri lebih baik bukan? “Tapi ya sebenernya ini cara lebih hemat aja gitu deh …  mueheee.”

Ini kali pertama bagi ku memanfaatkan maskapai penerbangan yang tulisan nama maskapainya berwarna hijau. Walaupun sedikit bingung dengan terminalnya, karena terbiasa memakai masakapai lain yang sangat mainstream untuk penerbangan Jakarta – Medan. Namun disini ada sesuatu yang menarik perhatian ku. Di sela – sela kami antri check-in, ada bapak – bapak menyapa kita berdua, “Ada bagasi mbak?” tanya bapak itu ke arah kami sambil menunjuk tas yang ku pegang berisi kue – kue yang sengaja aku bawa, yaaa meskipun aku tau itu tidak terlalu diharapkan kedatangannya oleh ibu ku.

“Enggak pak, cuma bawa tas 2 kecil ini aja kok.” Jawab ku masih tetap di antrian check-in sambil senyum – senyum terpaksa. Maklum saja puasa, jadi aku sedikit malas untuk terlalu ramah pada orang yang tidak aku kenal.

“Ohh, kalau tidak ada bagasi lebih baik check-in disini saja.” Kata bapak itu lagi sambil berjalan ke arah suatu mesin mirip ATM, tangannya sambil mengarahkan aku dan adek menuju kesana. Kami pun bergegas mengikuti petunjuk bapak itu.

Setelah didepan mesin itu kami hanya bisa bengong dengan memasang muka datar dan mata sedikit melotot ke arah layar yang menampilkan gambar slide show dan kata – kata selamat datang. Melihat kami yang mungkin agak norak, bapak itu kembali menghampiri kami. Tangannya menekan salah satu tombol yang mengakibatkan layar mesin itu menampilkan form yang digunakan untuk check-in.

“Mbak, masukkan kode booking sama nama akhir ya. Nanti kalau sudah muncul, tekan tombol ‘OK’, nah nanti akan keluar print out nya.” Tambah bapak itu lagi menjelaskan dengan sabar.

“Makasih pak…” ucap ku smbil menangguk – anggukan kepala, meskipun masih tidak paham betul dengan ucapannya. Kemudian aku mulai mengikuti petunjuk bapak itu tadi dan adek dengan seksama memperhatikan gerak – gerik ku.

“Berarti aku masukin nama akhir ku ya, ohh berarti Yuli.” Aku mulai mengetik nama akhirku di keyboard mesin itu. “terus kode booking ya?” kemudian ku lanjutkan mengetik kode booking tiket yang ada di kertas yang sedang aku pegang ditangan kiri.

“Naa na naahhh, keluar print out-nya. Kayaknya seru dek!” komentar ku setelah menggunakan mesin itu. “Sini aku check-in-kan punya mu!” tambah ku lagi sambil menarik kertas booking yang ada ditangannya.

“Enggak ah! Aku mau nyobain juga!” kemudian adek mulai mengutak – atik mesin itu persis dengan apa yang aku lakukan tadi.

“Waaaaaaaa~.” Teriak ku dalam hati sambil mengagumi mesin yang bentukny mirip dengan mesin ATM bank itu.

“Wuahahhahahah, norak kita keluar juga akhirnya mbak!” teriak adek sambil terus memencet tombol – tombol di keyboard mesin itu.

“Klo ada mesin begini, kenapa harus lama – lama antri check-in di operator yaa. Kan lebih gampang, walapun cuma buat penumpang yang tanpa bagasi.” komentar ku.

“Nanti, kalau semua di ganti mesin. Terus pegawai nya suruh ngapain?” sanggah adek sambil meninggalkan mesin itu kemudian menuju ruang tunggu sesuai dengan gate yang tertera di kertas check – in. Aku mengikuti langkahnya sambil mengendong ransel serta menjinjing tas ku yang berisi kue.

“Tapi kan demi kenyamanan dan kemudahan. Apa lagi di mesin itu bisa booking, bayar dan juga check-in. Waahhhhhh.” Aku masih terus berdelusi sepanjang jalan menuju gate waiting room.

“Trus bayarnya gimana?” tanya adek masih belum setuju dengan ide ku.

“Bisa pakai credit card, debit card, smart card, atau code voucher, mungkin.” Waaaa, aku mulai merasa genius.

“Tapi kan gak semua bisa punya tools payment kayak gitu mbak, dan belum tentu juga semua bisa manfaatin mesin itu. Kalau terlanjur di bikin banyak tapi gak guna, sampah juga kan ujung – ujungnya?” adek masih terus menyanggah. Kami terus berjalan sambil melakukan beberapa pengecekan barang sebelum masuk ke waiting room.

“Tapi aku yakin mesin kayak bayangan ku itu sekarang udah ada, tapi entah dimana. Belum nemu aja sih kitanya.” Aku masih berharap bertemu mesin itu. “Ohiyaa dek, mesin itu tadi apa namanya ya?” tanya ku penasaran sambil mendadak berhenti berjalan.

“Iya pulaak! Apa ya?” Jawabnya sambil menghentikan langkahnya kemudian menertawakan kebodohan kami.

“Harreeeehhh, berdua kok sama aja……” gerutu ku pelan.

 ——-

Siang hari, tepat 3 hari setelah Airport ini diresmikan kami mendarat di Kuala Namu Aiport, Medan. “Wuaaahhhh, ini ya Kuala Namu? Arsitektur nya keren. Berasa di Penang Airport  atau Changi gitu yaahhh…” Bisikku sambil mengagumi gedung yang masih bercat putih – putih serta lapangan pesawat terbang yang terlihat lebih luas dibanding dengan Polonia Airport. Kami turun dari pesawat melewati garbarata yang terhubung dengan tulisan “KUALA NAMU INTERNATIONAL AIRPORT”,  yang terpasang di tengah – tengah bangunan baru nan luas itu.

“Mau foto?” adek tiba – tiba menawarkan jasanya sambil mengeluarkan handphone dari kantongnya.

“Enggak, ahhh. Lagian nih bangunan masih belum beres.” Tolak ku sambil memperhatikan beberapa penumpang yang baru turun pesawat seperti ku langsung berfoto ria di balik jendela garbarata, seolah sengaja memanfaatkan background tulisan besar – besar itu.

“Ini baru hari ke 3 sejak di buka loh. Waaa, kita termasuk orang yang awal manfaatin airport ini.” kata adek sedikit bangga.

Aku sendiri malah gak lihat beritanya di tv saat Airport ini diresmikan, maklum saja aku kurang suka nonton tv tapi hobi menatap laptop sambil nonton anime, dorama dan sebagainya. Tapi malam sebelum keberangkatan aku sempet penasaran dengam Aiport baru ini, kemudian gugling dan mendapatkan beberapa info dan berita peresmiannya di beberapa portal berita online. Jadi, tidak terlalu buta tentang Airport yang terletak di salah satu desa yang bernama Kuala Namu ini.

Suasananya sangat belum nyaman, udara panas, bangunan belum selesai 100% jadi masih harus extra berhati – hati saat berjalan, bau cat masih sangat pekat, belum banyak toko – toko yang terisi jadi masih sangat sulit mencari makanan atau sekedar oleh – oleh. Fasilitas seperti toilet pun masih sangat tidak beraturan, bahkan mushola juga belum selesai dibangun. Tapi, lagi – lagi aku mengagumi bangunan ini, arsitekturny KEREN, menurut ku sih ya.

Jika dilihat sekilas, bangunan ini terdiri dari 3 lantai, ehh atau 4 ya? lupa. Saat itu, secara general pintu “kedatangan” akan memakai fasilitas yang ada di lantai 1, sedangkan lantai 2 dipakai untuk toko – toko yang disediakan, seperti tempat souvenir, makanan dan mungkin beberapa produk ber-merek lainnya dan lantai 3 adalah tempat untuk check-in dan “keberangkatan”. “Dan emmhhh, aku gak ada liat lantai 4 dehhh, apa aku beneran gak inget? Eergghhh… ”

Karena saat itu, kali pertama kami landing di Airport Kuala Namu, kami masih sangat tidak paham dengan keadaan sekitar. Kalau aku sih, selalu inisiatif tanya ke petugas daripada capek mondar – mandir tidak karuan. Dan jangan bertanya ke orang yang sudah jelas – jelas punya tampang tidak bersahabat atau memang terlihat bukan orang yang mengerti betul informasi tentang daerah sekitar.

Sebenarnya, ibu ku sudah menitipkan kami ke tetangga – Jauh, yang kebetulan juga sedang menjemput anaknya dari Surabaya. Awalnya kami sangat sungkan kalau harus ikut orang lain jadi kami mencari tahu informasi transportasi agar bisa keluar dari Kuala Namu Airport  ini. Saat iseng ke toilet sambil melepas lelah, ada ibu – ibu mendengar percakapan kami yang sedikit membahas tentang transportasi agar bisa keluar dari sini.

“Mau ke kota Medan dek?” sapa ibu itu tanpa ragu ke arah kami.

“Iya buk. Tadi baru sempat nanya ke petugas dimana letak toilet. Lupa nanya transportasi juga tarifnya. Hehehe…” Jawabku sangat jujur. Kemudian ibu itu mulai menjelaskan keadaan trasportasi disini.

Ternyata, kalau mau keluar dari sini baru ada 3 jenis transportasi. Pertama yang paling murah, naik bus Damri. Letaknya disebelah kanan pintu keluar. Jalan lurus terus, nanti disana pasti banyak orang antri. Tarifnya 6 ribu sampai 15 ribu rupiah saja perorang dan bisa turun nanti di pul Damri-nya atau dimana pun nanti kita mau, selama masih di rute bus tersebut.

Di depan pintu keluar utama “kedatangan”, kalau kita jalan lurus saja. Nanti disana ada Stasiun Kereta Api. Namun keberangkatannya dijadwalkan, dan belum tentu 1 jam sekali kereta akan berangkat. Tarifnya 80 ribu rupiah per orang. Heemm, cukup mahal dan sedikit sulit ditempuh bagi orang seperti ku. Turunnya sudah pasti di stasiun Kereta Api Medan. “Waaahh aku belum pernah kesana kayaknya.”

Nah kalau mau mudahnya, naik taksi saja. Tapi harganya bisa sampai 300 ribu rupiah sampai kota Medan. Bisa turun dimana saja. “Tapi ya gilaaa aja kalau harus membayar taksi semahal itu! Belum lagi kalau ketemu sopir taksi yang jahat, belum lagi nanti kalau mereka gimana – gimana. Positive thinking sihhh, cumaaa….yaaa…eemmm.”

Ibu itu, terlihat sudah paham betul keadaan sekitar sini jadi kami percaya begitu saja. Setelah berterimakasih, kami berlalu kemudian menyusuri pintu keluar utama. Memang benar, kami melihat ada bus Damri dari kejauhan bila menolehkan kepala ke arah kanan. Dan bila menatap lurus, kami bisa melihat pintu masuk Stasiun Kereta Api, dimana bangunannya masih belum selesai 100%. Dan kami melihat banyak taksi liar lengkap dengan calo – calo nya. Sighhhhh…

——-

Percuma saja kami menolak ajakan Panur, tetangga yang mendapat amanah untuk membawa kami dari Kuala Namu sampai depan pintu rumah ku. Aku dan adek sebenarnya sungkan, namun setelah dipastikan ternyata mobil yang dibawanya hanya akan membawa 4 orang saja dan menjadi 6 orang bila ditambah dengan kami berdua. Untuk mobil sejenis mobil keluarga, kami berfikir pasti tidak akan terlalu merepotkan bila kami turut serta seperti apa yang di katakan ibu ku tadi pagi. “Daripada kita tersesat kemudian bikin ibu pusing, mending kita ikut mereka aja mbak.” Kata adek pada akhirnya, dan aku menyetujuinya.

Seseorang menelpon ku, namun aku tidak paham siapa gerangan. Setelah aku jawab, ternyata itu Panur, “Kalian dimana? Bapak tunggu didepan pintu keluar ya?” kata beliau dengan suara khawatir. Jujur, aku tidak terlalu mengenal dengan baik siapa Panur. Namun, aku mengenalnya sejak kecil. Beliau kepala sekolah di salah satu Sekolah Dasar yang ada didesa kami. Tapi, beliau terkenal sebagai ustadz juga. “Gawaaatt! Perasaan sungkan ini muncul lagi.”

Dengan susah payah aku menjelaskan dimana kami berada kepada Panur. Hingga akhirnya kami berdiri cukup lama didepan pintu masuk Stasiun Kereta Api. Dengan perasaan sabar namun juga tidak sabar kami berdiri disana hingga seorang pria seumuran dengan ayah ku datang menyapa kami. “Tapi kita nunggu Rohmat dan Nisa sampai jam 8 malam ya. Tidak apa – apa kan?” Kata Panur setelah kami menyalam tangan nya.

“Bapak, sendirian?” tanya ku dengan perasaan tidak percaya kalau Panur menyetir mobilnya sendirian.

“Ahh tidak. Ada Lek Indro yang nyopirin. Sebenarnya saya sudah sejak tadi pagi disini. Kan memang ini SEKALIAN gitu. Tadi pagi ngantar Nenek sama Adik ipar yang mau ke Solo, mereka terbang dari sini sekitar jam 10 pagi tadi. Nah, sekalian jemput anak saya dari Surabaya yang kebetulan memang nanti malam sampai sini.” Jelas Panur tanpa memandang kami orang asing.

“Maaf pak, kalau kami nanti merepotkan.” sahutku dengan nada suara sedikit sungkan.

“Wahhh, ya enggak. Kan sekalian. Tapi ya gitu, kita disini sampai malam yaa.” Lanjut Panur lagi memperrtegas keadaan dan aku menganggukan kepala sambil memasang senyum sok ramah.

Dan benar saja, kami harus menunggu di Airport yang masih belum jadi dan sangat panas ini sampai malam hari nanti. Kala itu, kami puasa di minggu ke tiga. “rasanya seperti dipanggang!” gerutu adek sambil memainkan handphonenya.

Kami mencari – cari spot yang tepat untuk membuang waktu. “Kita lesehan aja di bawah pilar itu, mungkin ada stop contact listrik disana. Bis sambil ngecas hape.” Ajak ku ke adek dan dia meng-iyakan begitu saja. Kemudian kami duduk lesehan dibawah pilar yang ternyata tidak terpasang stop contact listrik sama sekali. Dan mata – mata tak kami kenal itu memandang aneh kearah kami. “ Apa kita seperti gelandangan, duduk lesehean begini?” gumam ku.

“Kalian sudah solat dzuhur?” sapa Panur tiba – tiba dari arah belakang kami.

“Belum. Kami tidak menemukan Mushola saat ke toilet tadi pak.” Jawab ku sedikit kaget.

“Kata satpamnya sih, Mushola-Nya belum jadi. Bagaimana kalau kita antar Nanda dulu kerumahnya sambil nanti mampir ke mushola? Rumahnya masih disekitar Deli Serdang sini kok.” Kata Panur menawarkan. “ Yaaa, sekalian jalan – jalan, mungkin ada yang bagus disepanjang jalan nanti.” Lanjutnya. Dengan perasaan tidak enak untuk menolak, kami mengiyakan ajakan tersebut.

Menyusuri area parkiran 1 di Kuala Namu Airport, dengan cuaca yang sangat terik membuat ku merasa sedang berjalan di padang pasir saja. Meskipun aku belum pernah merasakannya langsung, tapi aku bisa membayangkannya seperti di film – film yang pernah ku tonton. Meskipun sedikit merasa lelah, tapi kami berdua tetap memasang wajah ramah agar Panur juga sopirnya tidak merasa khawatir tentang kami. – Ya, kami tidak ingin mereka khawatir tentang kami, agar kami tidak merasa sungkan lebih banyak.

Mobil melaju melintasi jalan tol keluar Airport menuju Deli Serdang. Aku lupa detail nama daerah – daerah disitu. Namun pemandangan yang masih gersang itu teringat jelas di kepala ku. Dimana pohon – pohon seperti baru saja ditanam dan belum menampakkan daunnya yang ada disepanjang jalan tol. Di antara jalan tol masuk dan keluar Airport terlihat ada jalur kereta api ditengahnya, dihiasi bunga – bunga berwarna ungu yang sudah terlihat tumbuh subur meskipun didaerah yang panas terik seperti itu. Bunga – bunga itu seperti sengaja untuk memperindah jalanan, terlihat tertata rapi dan dirawat dengan benar. Jalanan terlihat padat karena penduduk sekitar datang ke Airport untuk melihat – lihat, – Ohhh mungkin bagi mereka tempat ini seperti tempat wisata baru bagi mereka. Seperti yang tertulis dibeberapa spanduk yang dipajang di sekitar jalan, bahwa Bandara Kuala Namu adalah salah satu tempat yang dibanggakan warga Medan dan sekitarnya. “Hooo, pantas saja.”

Memasuki daerah Deli Serdang setelah melewati jalan – jalan yang dikelilingi pohon sawit. “Hahhhh, seperti saat keluar dari Kuala Lumpur Airport  saja. Sepanjang jalan melihat pemandangan kebun sawit.” Celetuk ku pelan.

“Mungkin, karena nama nya mirip Yun, sama – sama ada ‘Kuala’-nya.” Jawab Panur dari arah tempat duduk samping Lek Indro yang sedang menyetir.

“Hehehe lucu juga ya Pak. Kok bisa nama nya mirip gitu. Kuala Lumpur, Kuala Namu. Sebenarnya arti Kuala ini apa ya?” lanjut ku dengan niat memecahkan suasana yang kikuk.

“Kuala? Hemmm, Koala. Emmmm, apa ya? Kurang paham juga. Tapi, Kuala Namu memang diambil dari nama desa disini, desa Kuala Namu yang ada di daerah Deli Serdang sini.” Jawab Panur sambil berfikir keras.

Suasana kembali sepi, dan aku sibuk memandangi pemandangan yang disuguhkan sore itu disepanjang jalan, dari balik jendela mobil. Ini kali pertama aku mengelilingi daerah Deli Serdang. Meskipun aku sering mendengar namanya, atau sekedar membaca nama itu di mobil – mobil angkutan umum yang sering lewat di simpang Baragas dimana aku biasa menunggu bus untuk bepergian. Masih sangat terlihat seperti Desa, namun bila menyusuri lebih lanjut. Ternyata jauh didalam sana ada sebuah kota, mungkin ini kotanya Deli Serdang. “Nahhh, klo sudah memasuki kotanya begini, kita gampang mencari kendaraan menuju kota Medan.” Celetuk Panur sambil mengamati jalanan sekitar yang sudah beraspal dan terlihat sangat lenggang.

“Bapak sering kesini?” tanya ku penasaran.

“Jangan salah, saya juga baru sekali ini kesini. Niih, mantan sopir ibu mu nih yang sudah hafal betul daerah sini. Soalnya keluarga dia ada yang tinggal disini.” Jawab Panur sambil menepuk bahu Lek Indro yang terlihat cengar – cengir sambil serius menyetir mobil.

Yaa aku kenal sopir yang duduk didepan ku ini, dia adalah Lek Indro. Dulu aku mengenalnya karena bekerja pada ibu ku beberapa tahun lamanya. Namun entah kenapa beliau keluar daaaan, entahlah. Mungkin rumor tentang pertengkaran kedua orang tua ku bulan lalu penyebabnya. Aku tidak ingin membahas hal ini disini, aku tidak mau topik pembicaraan menjadi kikuk. Aku hanya bisa kembali memandangi pemandangan jalanan yang mulai menampakkan hal yang sedikit menarik. “Apa disini banyak orang China? Kenapa banyak batu nisan orang china di pemakaman seperti itu?” tanya ku pelan masih dengan pandangan menuju pemakan yang sangat luas.

“Enggak juga sih.”Jawab Lek Indro pendek.

“Aduuh mbak, klo orang China mah nyebar di Indonesia. Kayak gak liat aja, di Sun Plaza itu, isinya orang kulit putih semua.” Jawab adek seolah paham betul daerah sini.

Iya benar, sepertinya aku melihat orang China dimana pun aku berada. Hampir disetiap tempat aku pergi , aku akan bertemu dengan mereka. Bahkan saat aku pergi ke Singapur tahun lalu, disana seperti didominasi orang kulit putih. Begitu juga saat aku iseng pergi ke Kuala Lumpur beberapa bulan yang lalu. Entah mereka hanya blasteran, atau memang keturunan orang Tionghoa, atau mereka malah keurunan Jepang atau Korea? Tidaakk, meskipun orang Asia banyak yang mririp warna kulitnya, namun mereka lebih indentik mirip seperti keturunan Tionghoa. Kadang aku merasa iri terhadap mereka, heemm mereka seperti bisa pergi kemanapun mereka mau. Mungkin.

Ada sedikit perasaan bersyukur aku memutuskan untuk ikut Panur dan tidak pulang kerumah memakai kendaraan umum. Alasan kenapa aku memilih hal itu karena, jarak dari Kuala Namu dan rumah ku sangatlah jauh. Biasa ditempuh kurang lebih 10 jam menggunakan kendaraan umum. Yaaa, rumah ku bukan di kota Medan namun di Tapanuli Selatan, tepatnya Desa Batang Pane 1 di dekat Padang Sidimpuan sana. Bukan, lebih desa lagi dari Padang Sidimpuan, yaitu Langga Payung. Heemmm, mungkin kalian tidak akan menemukan desa ku di peta gugel map.

Hari sudah sore, matahari berwarna orange. Sinarnya menusuk masuk dari jendela mobil yang keruh itu. Sejak Nanda turun didepan gang tadi, aku seperti mencium udara pantai. Semakin sore, bau itu semakin menyengat. “Waahhh, mataharinya cerah banget. Kalau dipantai nih seru. Bisa memandang sunset dari pinggir pantai.” Kata ku ke arah adek, namun dia tidak merespon.

“Lohh, katanya disini ada pantainya juga Yu!. Pantai Cermin namanya, lokasinya tidak jauh dari Bandara tadi.” Jawab Panur masih dengan pandangan lurusnya.

“Wahhh, pantas saja! Tadi siang udara di Bandara Panas Menyengat, kemudian sore seperti ini udara menjadi dingin. Jadi ingin melihat pantainyaaa…” sahut ku sedikit excited.

Panur dan Lek Indro seperti menertawakan ku dan berdiskusi entah apa. Aku kembali diam dan mulai merasakan perut ku keroncongan.

“Nanti di Pom Bensin sana, kalian turun sholat ya, di gabung aja boleh, dzuhur dan ashar. Setelah itu nanti kita balik ke Airport.” Kata Panur sambil menunjuk ke arah Pom Bensin yang sudah terlihat bangunannya warna merah dari kejauhan. “Kalau kalian mau buka puasa sekarang juga boleh sebenarnya, kalian kan sudah termasuk musafir.” Lanjutnya kemudian menertawakan kata – kata yang dianggap beliau lucu itu.

——-

Setelah sholat, kami meninggalkan Deli Serdang dan kembali menuju ke Airport. Sempat terjadi kebingungan antara Panur dan Lek Indro dalam memilih jalan. “Kalau kita balik arah, kita akan melewati jalan tadi lagi. Kita melewati gang – gang kecil di Desa, namun kalau kita lurus saja. Kita akan melewati jalan utama menuju Kota Medan. Dan terserah saja, mau lewat mana, saya sudah hafal jalannya.” Jelas Lek Indro sambil menghidupkan mesin mobil.

“Kita lurus saja, sambil mencoba jalan. Biar lain kali kita bisa membandingkan. Enak pakai jalan pedesaannya atau jalan kotanya.” Kata Panur memutuskan, dan kami hanya menurut saja.

Perjalanan terasa normal – normal saja awalnya, namun setelah masuk ke jalan arah ke tol Kuala Namu, mulai terlihat kemacetan mobil yang sangat parah. Jalan yang masih diperbaiki, terlihat sangat berdebu berwarna kuning seperti tanah liat. Mobil terlihat padat sepanjang jalan, tak ubah nya kemacetan yang terjadi di Jakarta saat jam – jam pulang kerja. Tidak paham apa yang sebenarnya terjadi disana, kami hanya bisa pasrah didalam mobil sambil khawatir tidak bisa sampai Airport tepat waktu.

“Waahhh, kalau tau begini dari awal. Kita lewat jalan di pedesaan aja kayak tadi ya….” keluh panur menyesalkan keputusannya.

Papan hijau penunjuk jalan menuliskan hanya menempuh jarak 16KM menuju Kuala Namu Airport, namun sudah hampir 2,5 jam kami menyusuri jalanan macet itu, dan belum sampai juga. Hingga akhirnya kami berbuka puasa dengan makanan dan minuman seadanya didalam mobil. “Hiyaaa, Cuma air mineral ples nastar aja.” Keluh adek pelan. Dan memang kue – kue yang ku bawa di dalam tas extra, cukup membuat perut kami terganjal. Jangan berfikir kami bisa membeli makanan di sepanjang jalan itu, kami hanya melihat pohon – pohon sawit serta rumput liar disana. Sesekali melewati rumah warga, namun untuk berhenti dan membelinya sangat tidak mungkin. Ada perasaan sungkan untuk melakukannya dan lagi pula kemacetan itu sangat tidak bersahabat. “Mungkin ini karena penduduk banyak yang mengantri masuk ke bandara nih, makanya sampai macet begini.” Gumam Lek Indro sambil mengepulkan asap rokoknya ke arah kaca mobil yang ia buka sejak adzan magrib tadi.

Aku dan adek mulai bosan, namun kami sesekali bercanda. Seperti yang kami lakukan sejak tadi siang, agar kebosanan hilang dan hati tetap terhibur. “Kalau masuk ke rumah makan serba ada, kira – kira mau makan apa sekarang?” tanya ku iseng ke adek untuk men-sugesti perut kami yang masih lapar agar terasa kenyang.

“Ayam? Hiiii…” jawabnya.

“Gado – Gado?” tanya ku.

“Ahh Extream!”

“Es Buahh?!”

“Wahhh Segarrr.”

“Soto?”

“Emm boleh juga!”

“RRREENDAAANGGG~”

“OGGAAHH!”

“Nasi?”

“Hemm buahnya dulu dong!”

“Kurma?”

“Opening yang baik!”

“Kemudian Es Kelapa?”

“Ples Lemon lebih segarrrr!”

“Kemudian nasi ples kacang panjang tumis?”

“Ala Mae? Yahuuut!”

“Atau Mie Aceh?”

“Ahhh, enggak!”

“Steakkk?!”

“Gak mau Daging!”

“Sop durian?”

“Whooaaaa, mauuu!”

“Kimchi?”

“Hoeeek!”

“Ramen? Heemm, mending Mie Ayam ples bakso!”

“Ke Warteg?”

“Whoahahaha, putus asa ya?”

“Heemmmm, mau makan apa lagi ya? Kulineran yook? Ada Coto Makasar, sate ayam, sate kambing, sop, roti cane, whooaaaa!” ajak ku excited.

“Shushiiiiiiiiiiiiiiii!” teriak adek girang.

“Kalian bahas apa sih?” sahut Panur tiba – tiba, kemudian kami diam seribu bahasa, dengan waktu yang singkat saja kemudian kembali tertawa.

“Kami mensugesti perut pak, biar terasa kenyang. Heheee. Maaf jadi rame.” Jawab ku tanpa merasa apa yang kami lakukan seperti anak kecil saja.

“Wahh ide bagus, nanti kalau sudah ngumpul. Kita makan yaaa. Sekarang tahan dulu.” Papar Panur seperti menjelaskan keadaan ke anak TK.

Perjalanan masih menyebalkan dan kamiiii….ternyata kami tertidur setelah percakapan itu.

——-

Aku merasa mobil sudah berhenti sempurna, perlahan ku buka mata dan mengucek keduanya. “Wahh sudah sampai!” teriak ku sambil menggoyang – goyang badan adek yang masih tertidur pulas.

“Kalian mau ikut menunggu dimana? Kalau ikut bapak, nunggunya depan pintu keluar, kalau mau duduk disini saja juga boleh.” Tanya Panur memberikan pilihan kepada kami.

“Kami disini saja pak, jagain mobil diparkiran. Hehehe.” Jawab adek sudah mulai berani berinteraksi dengan Panur.

Panur berjalan melewati keramain menuju pintu utama “kedatangan dalam negeri”. Mungkin hal itu juga yang dilakukan Panur ketika menunggu kami tadi siang. Perasaan sungkan itu muncul lagi, “Nanti kalau sudah sampai rumah, suruh ibu bayar ya dek, mungkin kita sudah hutang banyak dengan Panur.” Bisik ku sambil duduk di trotoar samping mobil diparkirkan.

“Iyalaah, gak enak tau ikut orang begini. Kayak hutang budi.” Katanya.

“Iya juga sih, hutang budi.” Gumam ku pelan.

Lagi – lagi kami menemukan titik jenuh dalam menunggu lagi. Jam baru menunjukkan pukul 7 malam, itu artinya kami harus menunggu sekitar satu jam lagi, belum kalau delay atau ada urusan lainnya. Uggghhh, perut sudah sangat lapar, mungkin cacing didalam perut sudah pinsan semua. Aku dan adek hanya mengobrol sambil sesekali memfoto – foto keadaan sekitar yang menurut kami menarik perhatian. Membuang waktu, kalau membuang waktu ada koneksi dan gadget menyala sih tidak masalah. Tapi ini? Handphone sudah mati semua, laptop sudah mati pula, hanya kamera pocket saja yang tersisa. Tapi memandangan bangunan Staisun Kereta Api itu, sepertinya bisa membunuh waktu beberapa menit lamanya. “Hemmm, aku melihat bangunan Stasiun Kereta Api itu seperti Station Center di Kuala Lumpur.” Gumam ku sambil memandang lurus.

“ohh itu? Iyaa, mirip! Aku pernah kesana sama Ibu waktu berobat mata ke Penang tahun lalu.” Jawab adek sambil ikut memandang bangunan yang atapnya belum selesai di bangung itu.

“Gimana kalau kita beli makan kedalam aja? Tadi pas mau ke toilet aku liat ada 2 tempat makan buka.” Ajak ku sambil mengalihkan topik pembicaraan.

“Ahhh gak enak ama Panur, kan tadi ngajak makan bareng!” jawab adek lemas.

“Iya juga sihhh.” Lanjutku.

Aku kembali diam sambil melihat – lihat lagi photo hasil jepretan ku melalui kamera pocket. Namun, seberapa gigihnya aku menahan rasa lapar, aku masih tetap merasa sudah tidak wajar lagi rasa perih yang ada diperutku. “Jangan bilang asam lambung naik.” pikir ku.

“Dekk, udah jam tengah 9 lohhh, kok Panur belum balik ya?” tanya ku ke adek yang terlihat sangat bosan sambil memandangi langit yang cerah.

“Mungkin lagi makan di dalem.” Jawabnya enteng.

“Hehhh!! Kalau gitu kita beli makan yuuk! Dah asam lambung nih, burger kek, apa gitu.” Ajak ku lagi.

“hemm, yaudah yook!” jawabnya pelan kemudian berdiri dan jalan lemas menuju pintu masuk ke gedung Airport.

Kami hanya saling diam selama berjalan menuju tempat makan yang kami maksud sampai akhirnya aku mendapati Panur yang terlihat dari kejauhan. Beliau terlihat sangat kacau. Aku menarik adek kemudian berjalan cepat menuju Panur berdiri, “Ada apa pak? Lohh Rohmat mana?” tanya ku cemas.

“Wahh Yu, batre ngedrop nih. Terakhir kontak Rohmat bilang lagi nunggu bagasi. Sekarang gak tau lagi harus gimana. Mana kita gak boleh masuk ya?” jelas Panur sangat cemas.

“Waahh hanphone saya juga mati pak. Lagi pula kalau pake handphone saya, kontak nomer anak bapak juga tidak ada di handphone saya. Apa bapak ingat nomer nya?” tanya ku.

“Yaaahh, enggak hapal.” Jawab Panur sambil membuka batre hanphone nya.

“Pak itu handphone bapak mirip dengan handphone saya. Coba type batrenya apa?” tanya Adek sambil menadahkan tangannya ke arah Panur. Kemudian Panur memberikan batre itu ke Adek. “Bentar ya pak, dimobil ada handphone saya yang batrenya masih bisa digunakan untuk handphone type ini.” Lanjut Adek sambil berlari menuju parkiran mobil area 1, tempat mobil Panur diparkirkan tadi.

Aku dan Panur menunggu Adek dengan sedikit cemas. “Seharusnya tadi aku menemani adek ambil batre, bukan malah menemani Panur yang jelas – jelas sudah berani berdiri sendiri disini.” Pikir ku. Aku masih mengkhawatirkan adek, kalau – kalau tersesat ditengah keramain. Namun beberapa menit kemudian ia sudah terlihat lari – lari kecil menuju tempat dimana kami sedang berdiri.

“Ini pak batrenya. Semoga cocok.” Kata Adek dengan nafas ter-engah – engah sambil menyodorkan batre ditangan kanannya.

“Wahh, cocok! Makasih ya Nin, bapak pake dulu ya.” Kata Panur setelah memasukkan batre itu ke handphone beliau. Kemudian beliau sedikit berjalan mundur sambil bercakap dengan anaknya.

“Mbak aku mau ketoilet, kamu disini aja ya. Nungguin bapaknya, tapi jangan kemana – mana kalau aku belum balik. Hape ku mati.” Ucapnya sambil kembali berlari kecil menuju restroom. “Laahh, hape ku juga mati kaliii!” gumam ku.

Aku kembali cemas berdiri disini. Ku amati keadaan sekitar yang masih padat manusia berlalu – lalang. Sesekali ku pandangi, orang – orang berkulit putih yang mendominasi di eskalator menuju lantai 2. “Kenapa aku selalu bertemu orang berkulit putih seperti mereka, dimanapun aku berada?” pikirku keras.

“Yu! Termyata Rohmat juga Nisa belum menemukan bagasinya. Gawat ini! Kata petugas, bagasinya terbawa sampai ke Banda Aceh Airport . Gimana yaa??” jelas Panur tiba – tiba dengan gugup.

“SERIUS PAK?” tanya ku balik dengan sangat tidak percaya.

“Iyaa! Bisa antar ke pintu keluar tempat kalian keluar tadi? Disana ada tempat pengambilan bagasi kan? Maksud saya, pengambilan bagasi ada didalam kan?” tanya beliau sangat cemas.

“Iya pak, ada didalam, tapi Adek lagi di toilet. Bisa menunggu bentar? Takutnya malah keselip jalan nanti. Urusan makin ribet.” Pinta ku ke Panur.

Beberapa saat kemudian Adek muncul dan kami segera bergegas ke tempat pengambilan Bagasi. Suasana sudah sepi, yang terlihat hanya petugas dan beberapa orang saja. Terlihat Panur jalan terburu – buru sambil mengikuti petunjuk ku. Setelah sampai pintu dimana bagasi diambil, Panur memaksa masuk untuk bertemu anaknya. Beberapa petugas terlihat menahan beliau. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan bersama adek sambil memandangi salah satu rumah makan keluarga ala Amerika. Aku menatap menu – menu menggiurkan disana. “Kita beli yuk dek?” ajak ku.

“Bentar mbak, Panur datang lagi tuh!” sanggahnya sambil menunjuk ke arah Panur yang berjalan tergesa – gesa  kearah kami.

“Ternyata ada 1 koper yang terbawa sampai Banda Aceh. Entah apa yang salah dengan manejemen bagasi.” Kata Panur panik. “ Tunggu sebentar ya kalian, ini mau nelpon Rohmat lagi.” lanjut beliau terburu – buru sambil terus berusaha menekan tombol –tombol yang ada di handphonenya.

Aku dan adek kembali hanya bisa berdiri melamun disana, sambil menahan perut lapar dan memandangi menu lezat yang ada di rumah makan ala amerika di toko seberang. Sesekali kami saling pandang dengan tatapan kosong kemudian kembali sibuk dengan tatapan yang berbeda.

 “Hemmmmmm…”, keluh ku sambil menelan ludah.

“Fuuhhhhhh!!!” lanjut adek menyebulkan jilbabnya yang sudah berantakan.

“Kucel banget ya dek, mana sampai besok baru bisa mandi lagi.” Celetukku masih dengan tatapan menuju rumah makan.

“Apa nanti malam kita akan makan, mbak?” tanya-nya pasrah.

Dari kejauhan terlihat Panur mendekati petugas yang menjaga tempat pengambilan bagasi lagi. Kemudian ada dua anak, laki – laki dan perempuan muncul. Anak laki – laki itu terlihat lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan yang mengenakan jilbab sedikit sembarangan. Ya, anak laki – laki itu adalah Rohmat dan anak perempuan itu Nisa. Adik perempuan Rohmat, dan mereka adalah anak nya Panur. Sepertinya mereka berdiskusi serius dengan petugas. Mungkin sedang ber-negosiasi. Aku masih setia memandangi pemandangan itu meskipun tidak tertarik lagi untuk mengetahui masalah mereka, hingga akhirnya mereka bertiga keluar dan berjalan menuju tempat ku dan adek berdiri.

“Nahhh, ini mbak Yuli dan ini adeknya Nina, anaknya Pak Sarman. Ingat?” kata Panur memperkenal kan kami ke kedua anaknya. Mereka menyalam tangan kami sambil senyum yang terlihat sangat dibuat – buat. Semua terlihat lelah, tidak terkecuali aku dan adek.

“Kita langsung pulang aja yuk.” Ajak Panur ke arah kami berempat, dan kami hanya bisa mengikuti beliau dari belakang sambil bercanda membicarakan hal lucu yang tidak semua kami mengerti. Hanya sekedar ingin tertawa untuk menutupi kelelahan kami.

 ——-

Didalam mobil yang melaju meninggalkan Kuala Namu Airport , untuk kedua kalinya bagi ku di hari itu, semua mencari kenyamananya masing – masing. Tahu diri sebagai orang yang menumpang, aku dan adek duduk di kursi paling belakang, sedangkan Rohmat dan Nisa duduk di kursi tengah dan Panur duduk disamping supir. Sepertinya formasi itu lebih baik, meskipun Panur tadi menyuruh Rohmat untuk duduk diposisi kami. Tapi, ahhhh ini bukan sesuatu yang penting. Aku hanya tidak mau mebuat mereka tidak nyaman duduk di mobil mereka sendiri.

“Rohmat udah buka puasa? Ini ada kue, mau? Nisa juga, mau?” aku menawarkan setoples kue nastar ke arah Rohmat yang duduk didepan adek.

“Ahhh, enggak. Tadi udah buka di pesawat kok.” Jawabnya menolak tawaran ku dengan suara tertawa kecil yang terdengar sedikit dipaksakan.

“Oh ya Mat, gimana ceritanya itu bagasi mu? Masak iya hal kayak gini terulang lagi. Gak bisa belajar dari kesalahan ya?” tanya Panur ke Rohmat yang duduk dibelakangnya.

“Ya kalau dulu kan kesalahan mereka, kenaspa bagasi ku sampai tertinggal di Jakarta. Padahal aku udah sampai Polonia.” Jawab Rohmat menjelaskan kejadian yang menimpanya tahun lalu ketika Airport di Medan masih di Polonia. “Kalau yang sekarang, yaaa kata mereka memang kesalahan mereka juga. Aku juga bingung, kenapa bagasi ku yang lain ada tapi koper isi baju – baju itu kebawa pesawat sampai Banda Aceh. Duuuhh, capeknya menunggu bagasi itu tadi.” Lanjut Rohmat sambil memasang headsetnya.

“Nisa, bagasi mu ada yang ilang juga?” tanya Panur ke Nisa yang sudah memejamkan matanya.

“Heee? Bagasi ku? Enggak ada yang ilang. Tapi yang dikoper itu isinya kebanyakan baju baru ku paaa,” jawab Nisa sambil merengek.

“Makanya, lain kali kalau mudik gak usah bawa baju banyak – banyak. Wong pulang kerumah kok kayak pindahan rumah gitu bawaannya. Ya kan Nis?” seloroh Panur menggoda anak perempuannya sambil tertawa kecil, namun Nisa cuma mengerucutkan bibirnya dan kembali memejamkan matanya.

“Terus, pertanggung jawaban mereka gimana Mat?” tanya Panur lagi ke rohmat yang sudah asik mendengar kan musik memakai headset. Panur terlihat membalikkan badanya kebelakang kemudian melepaskan headset dari kepala Rohmat dan mengulang pertanyaannya dengan nada yang sedikit agak tinggi.

“Ahhh, mereka bakal mengirim barangnya nanti kalau sudah sampai Kuala Namu. Aku udah kasih alamat lengkapnya, juga nomer hape ku.” Jawabnya dengan nada lelah.

“Yakin begitu? Sekalipun tidak kembali, ikhlasin ya Nis?” selorohnya lagi dan Nisa hanya menganggukan kepalanya sambil terus texting di handphonenya.

Suasana kembali senyap. Sesekali aku membuat lelucon dan cerita yang berkaitan dengan pertanyaan Panur atau Lek Indro. Aku mulai menata diri untuk meletakkan badan lelah dan juga lapar ini dikursi yang lumayan keras, aku berniat untuk tidur agar rasa lapar ini hilang. Aku yakin begitu juga yang dilakukan adek sejak tadi.

——-

Perjalanan sudah jauh meninggalkan Area kota Medan. Panur membangunkan kami untuk makan malam dan juga menunaikan Sholat yang tadi tertinggal. “Kita makan untuk porsi 3 kali ya, untuk makan siang, buka puasa juga makan malam.” kata Panur sambil membuka pintu mobil dengan sedikit bercanda. “Oh ya jangan lupa, sholatnya sekalian disini ya. Setuju?” lanjutnya memberi pengumuman.

Kami mengiyakan kemudian turun dari mobil dan berjalan terhuyun – huyun memasuki rumah makan khas Minang dengan menu yang super banyak itu. Ada masakan Aceh juga, seperti Mie Aceh, Kare,  kue Cane, namun mereka lebih banyak menyajikan masakan khas Minang.

Rumah makan yang terlihat unik dimataku. Menyediakan tempat makan ala cafe didalamnya namun terlihat seperti rumah makan khas Padang yang ada di Jakarta bila dilihat dari pinggir jalan. Tempat duduk seperti lesehan namun sebenarnya kita dapat duduk santai mengayunkan kaki seperti duduk dikursi pada umumnya. Meja bundar yang penuh terisi segala menu makanan yang tidak kami pesan, tapi seperti itulah rumah makan khas minang ataupun khas padang. Kita disuguhkan banyak menu lauk pauk, sayuran dan juga nasi yang ada di rumah makan itu. Dan kita bisa makan apapun yang terhidang dimeja itu atau tidak memakannya. Karena hitungan harga tergantungan porsi menu yang kita makan. Jangan sentuh sedikit pun piring yang berisi menu apabila memang tidak mau terhitung dalam bill pembayaran nantinya.

Melahap menu makanan enak membabi buta kemudian dilanjutkan dengan sholat, rasanya seperti mendapat bayara yang pas atas penantian panjang menahan lapar sejak sore tadi. Sebentar saja beristirahat lalu kami melanjutkan perjalanan. Aku rasa sehari di Kuala Namu, Deli Serdang seperti pengalaman baru bagi ku. Meskipun aku sering melewati kota ini sebelumnya. Aku tinggal di negara ini dan pasti aku akan kembali lagi, dengan moment dan orang yang berbeda. – Mungkin nanti, setelah lebaran. Saat akan kembali ke Jakarta.

“Ternyata, ini lah yang terjadi setelah aku mengkhawatirkannya semalaman sebelum keberangkatan.” Pikir ku sambil kembali tidur,  hingga nanti mobil ini membawa ku sampai depan pintu gerbang rumah ku.

Info di Wikipedia : Bandar Udara Kuala Namu

Note :

Tulisan ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang dirangkum menjadi sebuah cerita, beberapa nama disamarkan. huehhheee

Advertisements

Your Thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 3, 2013 by in FAMILY'S, TRAVELLING.

ARCHIVES BLOG

CATEGORIES POST

  • 53,947 hits

Via Instagram

Long time no post. 😅😅😅 Mudik ... Gak kebagian tempat. Karena telat trus luberrr. Kebagian dikit doang abis itu jajan 😂 Apakah dia sejenis bulldozer yg merana? ( Alias pengangguran )

#indonesiandiecaster  #diecast Satu2 nya Monster Truck yang masih utuh. Lainnya dah pada cacat 😅

#indonesiandiecaster #diecaster Masing inget foto Rafif nggrindil di Penvil?

Nah, sepulang dari situ dia demam, batuk, pilek. Sampe hr ini masih ada pileknya.

Sebenernya awalnya dia gak mau pulang dari Pirate. Tapi trus di iming2in es krim nitrogen. Jadi dia nyerah deh. Pas makan kok dia kayak batuk2 gitu trus meler hidungnya. Ntah krn abis nangis atau krn abis ngeskrim tuh melernya.

Es krim abis, kita turun via eskalator. Dan dia melihat pajangan buanyaaaaknya Hotwheeeellllllsssss.

Nangis lagi dah dia. Kata dia " Adek mau main main mobiuuuu. Anyaak main main Adek mauuu!" Klo dijual sih gakpapa, lah itu pedagangnya cuma jual raknya aja, hotwheel nya kagak dijual. Emak bisa apa?

Akhirnya, kita mampir ke hypermart. Dan dia membabi buta beli segala macem diecast.

Tapi demi mengontrol emosi dan nafsu sesaat. Jadi cuma emak beliin 2 aja. 
Dan mobil ini salah satunya.

Kebayang gak klo anak laki kita ada lebih dari 2 dengan hobi yg sama dan gak mau berbagi? Tumpur lah bapake ... 😂

#indonesianDiecaster #diecaster Ayooo, siapa yg mau ikut ke Secret Zoo.

Bolehlah naik dengan percumaaa 🎶

#diecaster #diecasteramatir Mei Mei

Sikucing kampung jantan. Sehari aja Rafif tanpa laptop. Awalnya nangis2 air mata buaya. Lama2 bodo amat dah yaa. Saatnya milihin mainan kesukaan.
Follow y u n i on WordPress.com
%d bloggers like this: