y u n i

Daily Life : Fangirling, Home Gardening, Cooking, storytelling and All Random Posting. Eeeeverything!

Tale La Illa : “Memory”


wpid-IMG_20131218_213653.jpg

“Ma, apa kamu percaya aku tadi melihat hantu?”

Mama tidak menghiraukan pertanyaan serius ku. Beliau malah melengos pergi ke dapur dan meninggalkan aku juga bunga – bung yang belum selesai Ia siram di halaman depan. Aku tidak heran kalau Mama tidak percaya dengan apa yang aku tanyakan. Wajar kalau beliau pergi dan tidak perduli dengan aku yang masih kacau.

Sejenak aku berfikir semakin keras sambil bermain ayunan yang ada di halaman depan rumah. Aku sering menghabiskan waktu ku disana sendirian. Benar, aku anak tunggal dan aku tidak punya banyak teman. Aku sudah terbiasa. Jadi, kalian tidak perlu iba dengan keadaan ku. Tapi, bagaimana dengan teman – teman ku yang berasal dari sekolah tua pinggir jalan tak beraspal itu?

“Kamu bicara soal hantu?”

Aku tersentak kaget mendengar pertanyaan Mama dari belakang ayunan ku. Ia berdiri seakan sudah lama memperhtikan gerak – gerik ku sejak tadi. Aku menoleh ke arah suara itu setelah menahan nafas sejenak untuk mengatur nafas.

“Bagaimana kalau Mama tidak percaya?”

Beliau mulai mengayun kan ayunan yang aku duduki sejak tadi. Seperti biasa, beliau sangat lembut memperlakukan ku. Terkadang, aku menjadi iri dengan kelembutan yang Ia miliki. Tapi sepertinya, Ahhhh … aku harus memalingkan pandangan ku darinya agar rasa iri ini pergi secepatnya.

“Aku tidak heran. Aku memakluminya.”

“Semudah itu?”

Aku mengangguk dan menekan kaki ku ke tanah. Ayunan itu berhenti dan aku mulai menunduk. Lagi – lagi tidak ada yang percaya dengan apa yang terjadi pada ku. Sudah berapa orang yang tidak percaya pada cerita – cerita ku?

“Mungkin Mama akan percaya kalau kamu menceritakannya lebih banyak dari sekedar pertanyaan ini.”

“Apa Mama mau mendengarkan cerita ku?”

Langkah itu mendekati ku. Beliau duduk menjulurkan kedua kakinya didepan ayunan yang aku duduki. Beliau tersenyum dan mengangguk.

“Mama akan selalu mendengar cerita mu.”

♦♦♦

Ini pertama kalinya ada yang menemani aku pulang sekolah menuju rumah, kecuali Nana. Hari ini aku pulang bersama Rena dan Rina. Dua anak kembar ini adalah teman sekelas ku. Mereka biasanya pulang dijemput sopirnya menggunakan mobil mewah keluaran Eropa. Tapi hari ini, mereka mengajak ku pulang bersama melewati jalan yang tidak biasa aku lewati.

Rena dan Rina tidak seheboh biasanya. Mereka diam dan terus saja berjalan menggandengku dari kedua sisi tangan ku. Tak ada lelucon, tak ada tebak – tebakan garing dan tak ada gelak tawa seperti yang biasa ia lakukan dikelas. Aku tidak mengenal mereka dengan baik, tapi aku sering memperhatikan kelakukan mereka dikelas. Selain pintar, kedua kakak beradik kembar ini memang punya banyak teman karena jago bergaul. Bila dibandingkan dengan ku. Seperti singkong dan pizza. Enak hanya karena selera ataupun terpaksa saja.

Kami berjalan sudah terlalu jauh meninggalkan sekolah. Tapi rasanya, jalan yang baru sekali aku lewati ini sangat jauh dibandingkan dengan jalan biasanya. Jalannya terjal bebatuan tak beraspal, tapi sejuk. Aku memang tidak banyak bicara dan aku tidak ingin bertanya kemana mereka akan membawaku. Mau pulang bersama saja aku sudah senang.

Rena memindahkan posisi tasnya dari bahu kanan ke bahu kiri. Ia juga merapikan rambut sepinggang ku yang sama sekali tidak berantakan. Aku melirik Rina yang menggandengku dengan tangan kanannya. Mesipun tatapan lurus kedepan tapi aku tahu, Ia sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Aku melihat senyum tipis itu dari sisi pipi kirinya.

“Kalau Nana mengajak mu pulang lewat jalan lain, kamu abaikan saja kami. Anggap kami tidak ada disekitar mu.  Kita bermain dengan Nana, Kamu mau?”

“Ke kenapa begitu permainannya, Rin?”

Rina hanya tersenyum dan mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah gang yang ada dipengkolan depan.

“Ternyata Nana sudah pulang. Kamu boleh menyapa sahabat mu itu.”

Aku hanya mengernyitkan dahi ke arah Rina yang masih memperlihatkan senyuman tipisnya. Rena melepaskan pegangan tangannya yang sejak tadi memegang erat tangan kiri ku.

“Apa kalian tidak merasa kalian salah jalan? Kemana Pak Nawar yang biasa menjemput kalian?”

“Dia sedang dirumah sakit. Jadi, kami harus pulang jalan kaki.”

Aku mengangguk pelan. Sedikit bisa aku memahami apa problem mereka. Tapi aku masih tidak habis fikir, Apa anak sekaya mereka hanya punya satu sopir pribadi saja?

“Illa! Apa kamu sendirian?!”

Tanya Nana dari jauh sambil sedikit berteriak dan lari kecil menghampiri ku. Aku mengangguk dan menghentikan langkah ku. Aku mempertanyakan kostum Nana yang serba hitam dan sedikit abu – abu pada kemeja yang ia kenakan.

“Kamu gak ke sekolah?”

“Hey, selo dikit lah. Jangan sedih gitu muka nya. Yang udah terjadi – ya terjadi aja. Toh semua gak bisa di undo lagi kan?”

“Aku? kenapa aku?”

Nana menarik tangan kanan ku hingga pegangan erat tangan Rena dan Rina terlepas. Aku berusaha menahan langkah ku yang dipaksa untuk melangkah ke arah dimana Nana berdiri, sekitar 2 langkah didepan ku.

“Apa kamu sendirian?”

Aku mengangguk kemudian aku menoleh kebelakang. Ku lihat Rena dan Rina tersenyum, menandakan mereka setuju kalau permainan pura – pura tidak lihat ini dimulai. Aku rasa Nana paham kalau aku sedang memerankan peran ku.

“Aku rasa ada yang mengikuti langkah mu sejak tadi.”

Nana ikut melihat ke arah yang aku lihat. Mungkin dia melihat Rena dan Rina sedang memulai permainan konyol kami. Aku tinggalkan Rena dan Rina dibelakang dan aku mulai berjalan berdampingan dengan Nana.

“Apa kamu perlu aku traktir? Kita mampir ke toko Donat sebentar. Bagaimana?”

Aku mengangguk sambil mengangkat wajah ku. Tak lupa aku tersenyum kecil tanda menyetujui ide nya. Kebetulan aku lapar. Dan entah kenapa Mama tidak membuatkan aku bekal hari ini. Bahkan Ibu Winda tidak membuka kantinnya sejak kemarin.

Nana menggeser 2 kursi untuk kami. dan aku mengambil 2 kursi lagi untuk Rena dan Rina. Aku juga meminta 3 porsi pada Nana saat ia menawarkan menu. Rena dan Rina tidak mau duduk jauh dari ku. Akhirnya aku harus menyuruh Nana duduk berhadapan dengan ku, tidak berdampingan disisi kiri atau kanan, seperti kedua saudara kembar identik ini.

“Kenapa kamu tidak memakan 2 Donat nya?”

“Satu Donat jumbo saja aku sudah kenyang.”

Jawabku sambil mengelus perut sambil menyeruput segelas Vanilla Latte Blend.

“Apa mau dibungkus ?”

Aku berfikir sejenak sambil memandang Rena dan Rina untuk meminta pendapat mereka. Rena tersenyum tanda setuju dan Rina tertawa melihat Rena yang memasang wajah semangat ke arah ku.

“Boleh dibungkus aja Na. Kalau boleh nambah satu lagi buat Mama. Aku yang bayar.”

♦♦♦

Rumah Nana memang satu komplek dengan ku. Tak ubahnya dengan ku, orang juga memandang Nana sebagai anak cowok yang aneh. Selain namanya yang sangat feminim dia juga hobi menyendiri dan diam. Tapi sepertinya, akulah yang paling akut dalam menekuni hobi berdiam diri ini.

Nana duduk disamping ku dan Rena juga Rina duduk di seberang bangku bus Transjakarta yang kami tumpangi. Aku sadar, Nana sudah menatapku terlalu lama. Tidak seperti biasanya. Dia lebih peduli kepada ku.

“Ada apa? Apa aku terlihat semakin aneh?”

Aku tidak melpaskan pandangan ku ke arah Rena dan Rina yang sejak tadi menertawakan Nana yang sepertinya sudah tidak tahan untuk mengakhiri permainan ini.

“Kamu tahu? Aku tidak tahu kalian sedang mempermainkan apa. Aku tidak perduli Rena dan Rina sedang menertawakan ku atau tidak. Tapi yang harus kamu tahu adalah, mereka sudah meninggal.”

Aku kaget dan menoleh ke arah Nana dengan muka marah namun perlahan berubah menjadi tergelitik lucu. Sepertinya, Nana marah karena kalah dalam memainkan perannya dan ingin menyudahi permainan konyol ini. Aku, Rena dan Rina tertawa geli.

“Apa kau melihat ada 2 cewek duduk di seberang sana?” Tanya Nana pada segerombolan anak sekolah yang duduk disamping nya. Mereka tertawa sambil menggeleng.

“Cewek duduk? yang bener aja, itu bangku kan bolong. Mana bisa didukin. hahahhahahha.”

Aku diam. Rena dan Rina pun menyudahi gelak tawanya. Kami saling berpandangan sangat lama.

“Ini tidak lucu. Aku sudah diam sejak tadi. Aku pikir kamu tidak bisa melihat mereka.”

Nana berbisik didekat telinga ku sambil memegang tangan kiri ku. Rena dan Rina berdiri dari posisi duduknya dan melangkah bersamaan ke arah ku. Mereka berdiri didepan ku dengan wajah yang sedih. Aku mendongak ke arah wajah mereka.

“Maafkan kami Lla, kami pikir Nana tidak bisa melihat kami. Kami pikir, kami bisa bermain dengan mu lebih lama lagi.” Kata Rina.

“Aku tidak masalah bermain dengan kalian. Aku menyukai kalian. Aku ingin berteman dengan kalian sejak lama. Aku senang kita bisa pulang sekolah bersama hari ini.”

“Kami tau, itu kenapa kami ingin mengantar mu pulang hari ini. Tapi sepertinya kami harus pergi sekarang. Nana tidak menyukai kami.” Kata Rena.

“Ya, aku tidak suka kalian menganggu Illa. Pergi kalian!!”

Aku bingung dengan keadaan ini. Aku lihat segerombolan anak yang duduk disamping Nana melongo melihat tingkah kami berempat.

“Maafkan kami, kami berempat hanya bercanda.” kata ku kearah mereka.

“Tapi kami melihat kalian hanya berdua.” Jawab salah satu anak yang duduk paling dekat dengan Nana.

“Ya, kita cuma berdua dan tidak ada Rena ataupun Rina!” Bentak Nana sambil berdiri menyilangkan kedua tangan dipinggangnya untuk menantang Rena dan Rina. Mata nyap pun melotot. AKu takut melihat Nana sedang marah.

Rena dan Rina hanya bisa tersenyum. Kemudian mereka menepuk pundakku dan berjalan menuju pintu bus Transjakarta. Aku terpukau saat melihat mereka menuruni tangga dan turun daru bus yang sedang melaju kencang. Bagaimana bisa mereka melakukannya?

“Sekarang kamu percaya? Tidak ada lagi Rena dan Rina didunia ini. Mereka sudah meninggal. Dan terimalah kenyataan.” Kata Nana ketus ke arah ku.

Aku menunduk dan mencoba memikirkan kembali kalimat yang diucapkan Nana. Aku tidak percaya. Tapi Nana masih terus meyakinkan ku. Bahwa Rena dan Rina tidak ada lagi didunia ini. Mereka sudah meninggal sejak 2 bulan yang lalu.

“Kamu terlalu lama mengurung diri di rumah. Aku saja kaget melihat mu ke sekolah hari ini. Sedangkan menurutku, kamu seharusnya pergi ke pemakaman.”

“Aku? Apa aku harus menjenguk mereka di pemakaman?”

“Ada banyak orang yang kamu cintai. Bukan hanya mereka berdua yang harus kamu jenguk.”

“Sepertinya aku harus segera pulang. Mama menunggu ku.”

“Ya. Dan segeralah kirim do’a.”

“Apa kamu mau menemaniku nanti? aku tunggu di halaman depan.”

♦♦♦

Mama menertawakan cerita ku. Ia duduk di ayunan yang ada disamping ku. Wajahnya yang cerah menengadah ke langit yang penuh awan hitam.Sepertinya akan turun hujan.

“Kamu tahu. Ada banyak hal yang seharusnya tidak kita ketahui untuk tetap merasakan kebahagiaan. Atau pura – pura tidak percaya dengan kenyataan.”

“Apa maksudnya? Apa aku harus pura – pura tidak percaya dengan Nana?”

“Itu pilihan mu.” Jawabnya singkat sambil menatapku lekat – lekat.

“Bahagia itu pilihan. Apapun yang kamu hadapai, berusahalah untuk tetap tenang dan carilah jalan untuk tetap merasakan dunia ini dengan cara yang lebih indah, agar kamu tetap bahagia.”

“Seperti yang aku lakukan beberapa hari ini?”

“Kamu mulai mengingatnya?”

Aku menggeleng. Aku masih harus mengerutkan alis dan kembali berfikir keras. Aku tidak mengingat apapun, aku hanya ingat Nana. Ya, aku punya janji dengannya untuk pergi ke pemakamana sepulang sekolah.

“Pergilah. Nana sudah menunggu mu didepan pagar sejak tadi.”

♦♦♦

“Apa ini kedua kalinya dalam sehari kamu ke pemakaman?”

Nana tertawa sambil memasukkan kemejanya agar penampilannya terlihat berbeda dengan saat bertemu dengan ku saat pulang sekolah tadi. Kemudian ia memandang baju ku yang berwarna serba merah maroon.

“Kenapa kamu tidak masuk saja? Mama melihat mu berdiri didepan pagar sejak lama. Aku jadi tidak enak dengan mu.”

“Aku melihat Mama mu. Ada perjanjian diantara kami.”

“Perjanjian? Apa?” Nana tersenyum kemudian menarikku untuk menaiki Bus Transjakarta.

Ini aneh sekali, kaki ku tidak merasakan lelah sedikit pun walaupun sudah berjalan berkilo – kilo meter jauhnya. Nana membelikan ku sebotol air mineral dan perlengkapan ziarah dari toko depan pemakaman. Kami menelusuri beberapa jalur nisan dan sedikit berkelok – kelok. Aku sedikit lelah melihat pemadangan ini.

“Apa kita masih jauh?”

“Kita sudah sampai.”

“Siapa yang harus aku kirimi do’a?”

Nana menunjuk sebuah batu nisan. Dan aku hanya bisa menatap kosong setelah membaca tulisan yang ada di atas batu nisan itu. Air mata perlahan mengalir dan aku masih tidak mau mengakui kenyataan yang ada di hadapan ku. Aku ingin amnesia lagi. Aku sudah berpura – pura amnesia sejak tadi pagi, agar aku tetap bisa bermain dengan teman – teman ku yang bersasal dari sekolah pinggir jalan tak beraspal. Aku ingin semuanya kembali seakan aku tidak tahu dengan apa yang terjadi. Biarkan aku bermain dengan Rena, Rina, Mama, Ibu Winda dan lainnya.

“Apa ini kali pertama aku kesini?”

“Tidak. Kamu setiap sore kesini.”

“Apa aku terlihat seperti orang bodoh?”

“Illa, Aku bisa melihat apa yang kamu lihat . Tenang lah, aku akan terus bersama mu.”

Rintik hujan turun secara tiba – tiba. Ini kali pertama aku berdo’a didepan batu nisan Mama ku. Tpi kata Nana, ini bukan yang pertama tapi untuk kebanyak kalinya. Betapa aku seperti orang bodoh. Sebodoh apa tingkah ku sebelum aku sadar dengan hal ini?

Sumber inspirasi : JUNIEL  – illa illa >» Play

Sumber inspirasi nama dari judul lagunya Juniel – Illa Illa, sumber inspirasi gambar dari Fotonya Juniel ( View )

Advertisements

Your Thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 18, 2013 by in SHORT STORY and tagged , .

ARCHIVES BLOG

CATEGORIES POST

  • 51,417 hits

Via Instagram

Ikut mudik ... Mudik ... Jam segini dah melalang buana dan akan kembali lagi ke Depok. 😴 Gak kebagian tempat. Karena telat trus luberrr. Kebagian dikit doang abis itu jajan 😂 Buat sarapan yang tertunda dan makan siang yang kecepetan. Brunch ya namanya ... Hellahh gayaak! #homecooking #simplerecipe Adiknya juga sedang berbunga 😆

#homegardening Cikin Wing lovers.

Menurut voting enaknya di ayam krispi trus disalut saus pedas. Tapi ntar sibayik gak bisa ikutan makan. Voting lagi, akhirnya disemur aja 😂 Tanpa sambel, mereka hanya potongan buah.

#surganyaemak2 Hanya kelapa sangrai. Nyangrainya pun ogah2an. Klo orang batak pake cara ditumbuk ya saya ngeblender aja. Judulnya sama kok, buat kuah rendang 😂

#ntahapahashtagyangtepat
Follow y u n i on WordPress.com
%d bloggers like this: